Review Drachin The First Jasmine (2026): Kisah Cinta Bai Lu dan Cheng Lei
Review Drachin The First Jasmine (2026): Kisah Cinta Bai Lu dan Cheng Lei
Akhirnya, aku review drama The First Jasmine alias Mo Li juga yang kutonton on going. Sebulanan cuyy ngikutin Cheng Lei dan Bai Lu. Mana aku memang nungguin drama ini sejak diumumkan ada Bai Lu dan Cheng Lei eheheh. Cuma ya agak telat aja ini review-nya, maaf ya, asal masih tahun 2026 ehehe.
Awalnya, aku kira The First Jasmine ini bakal jadi drama balas dendam kerajaan yang banyak intrik politik dengan bumbu romansa seperti kebanyakan drama China sejarah lainnya.
Ternyata drama ini menawarkan sesuatu yang lebih dari sekadar kisah balas dendam loh. Di balik intrik perebutan kekuasaan keluarga kerajaan, ada cerita tentang trauma, penyembuhan, kehilangan, hingga dua orang yang sama-sama terluka dan perlahan menemukan tempat untuk pulang.
Kalau Pengembara suka drama yang lebih mengutamakan perkembangan karakter daripada adegan berantem, Mo Li atau The First Jasmine bisa jadi pilihan yang menarik. Oh ya, ulasan kali ini bakal bertabur screenshot dan gambar, soalnya aku sesuka itu sama visual dan karakter mereka.
***
Info Drama
Judul: The First Jasmine, Mo Li
Genre: Historical, Romance, Drama
Jumlah Episode: 40
Sutradara: Lam Yuk Fan, Leung Sing Kuen
Penulis Naskah: Xiao Xiang Dong Er, diadaptasi dari web novel "Sheng Shi Di Fei" (盛世嫡妃) oleh Feng Qing (凤轻)
Pemain: Bai Lu, Cheng Lei, Cai Zheng Jie, Yang Shu Yi, Feng Xue Ya, Lin Mu Ran
Tayang: 9 Juni 2026 - 28 Juni 2026, Tencent Video
Durasi: 45 Menit
Rating Usia: 13+
***
Sinopsis Drama China The First Jasmine:
Ye Li, adalah putri sulung keluarga Ye, dia menikah dengan Pangeran Ding, Mo Xiuyao, yang dikenal sebagai pangeran cacat berkursi roda sekaligus mantan jenderal legendaris. Di hari yang sama, adiknya, Ye Ying, juga menikah dengan Pangeran Li, Mo Jing Li yang ambisius untuk mengejar takhta.
Di balik pernikahan politik tersebut, Ye Li diam-diam menyimpan misi membalas kehancuran Lishan, sementara Mo Xiuyao juga memiliki rencana balas dendamnya sendiri. Awalnya mereka saling mencurigai, tetapi pada akhirnya mereka berdua mulai bekerja sama menghadapi berbagai intrik istana. Meskipun sempat diwarnai berbagai rintangan.
Di tengah perebutan kekuasaan, konflik keluarga kerajaan, dan rahasia masa lalu, Ye Li dan Mo Xiuyao perlahan membangun hubungan yang berlandaskan kepercayaan sebelum akhirnya bersama-sama menghadapi musuh yang mengancam kedamaian negeri.
***
Rating 9.8/10 untuk keseluruhan drama ini. Alasannya selain nyaman dengan cerita, karakter, akting dan visual, romansa slow burn-nya nggak terlalu melelahkan. Aku justru capek dengan polemik orang-orang di istana, selain Mo Xiuyao dan Ye Li tentu saja wkwkwwk...
Baca juga: REVIEW MOONLIGHT MYSTIQUE (2025): DRAMA CHINA BAI LU DAN AO RUI PENG
Review Drama China lainnya: THE PRISONER OF BEAUTY (2025): REVIEW DRACHIN LIU YUNING DAN SONG ZUER
Review Drama China The First Jasmine:
1. Awal Cerita yang Berkesan
Beberapa episode pertama berfokus pada Ye Li, sekitar 3 episode awal sempat diajak memahami bagaimana Ye Li menjalani hidup saat berada di Akademi Lishan. Pun diberikan teka-teki soal apa yang sebenarnya terjadi di sana dan teka-teki soal Qing Shuang yang misterius itu.
Drama ini nggak menggambarkan Ye Li sebagai perempuan yang rapuh. Sebaliknya, dia tampak tenang, cerdas, dan selalu mampu mengendalikan emosinya. Namun semakin jauh cerita berjalan, semakin terlihat kalau ketenangan itu bukan berarti dia sudah sembuh dari masa lalunya. Trauma telah membentuk hampir semua keputusan yang dia ambil.
Di pertengahan episode empat sampai lima jadi salah satu bagian yang menarik karena cerita beralih ke sudut pandang Mo Xiuyao.
Sebelumnya, melalui mata Ye Li, Mo Xiuyao ini kan terlihat seperti pria misterius, pemarah dan agak menakutkan (walau dia nggak takut wkwkwk) yang selalu punya rencana besar di balik setiap tindakannya.
Namun ketika cerita berpindah ke perspektif si Pangeran Ding ini, muncul sisi lain yang justru terasa lucu. Ternyata dia sering mengawasi dan memperhatikan Ye Li dan melihat Ye Li sebagai gadis yang sibuk dengan urusannya sendiri, sibuk lari pagi, diam-diam minum minuman keras, menanam batu, dan mengobrol sendiri. Sampai ke episode-episode di mana Ye Li sampai sibuk menebang pohon, tanpa menyadari betapa besar pengaruh Ye Li terhadap hidupnya kelak.
Perubahan sudut pandang ini membuat hubungan mereka terasa lebih hidup sekaligus memperlihatkan bagaimana keduanya sama-sama salah menilai satu sama lain pada awal pernikahan.
Nah, aku inget banget sekitar episode 12 menjadi awal tumbuhnya kepercayaan. Salah satu titik penting ini terjadi waktu Mo Xiuyao akhirnya bersedia menerima pengobatan dari Ye Li.
Momen ini sederhana, tetapi punya makna besar. Selama ini Mo Xiuyao 'kan hidup dengan penuh kewaspadaan dan sulit mempercayai siapa pun. Keputusannya membuka diri kepada Ye Li menjadi tanda kalau hubungan mereka mulai berubah dari sekadar aliansi politik, saling memperhatikan diam-diam menjadi hubungan yang dibangun atas dasar kepercayaan.
Pun seiring berjalannya waktu, semua rahasia yang diperlihatkan pelan-pelan (mau itu boneka santet *eh* jerami yang dipakai Ye Li menghitung korbannya atau yang lainnya) berkembang di setiap episode dan bikin aku penasaran.
2. Politik Kerajaan juga Dibangun Perlahan
Kalau kamu kira yang slow burn di sini cuma romansanya, salah gaees. Bahkan Politiknya juga terasa agak lambat. Bagiku ini bisa jadi kekuatan juga jadi kelemahan.
Well, The First Jasmine lebih memilih membangun karakter, hubungan antar tokoh, serta intrik politiknya secara bertahap. Setiap keputusan punya konsekuensi, setiap aliansi lahir karena kepentingan tertentu, dan perebutan kekuasaan terasa masuk akal, bukan sekadar konflik demi drama. Bahkan alur politiknya terasa seperti membaca kisah sejarah daripada menonton drama fiksi. Ini kekuatannya.
Bukan hanya itu, politik kerajaan dipadukan dengan trauma psikologis dan balas dendam yang terasa lebih dewasa dibanding drama sejarah pada umumnya.
Hanya saja, bagiku yang memang kurang suka politik, dan agak pemilih soal tema politik mau itu drama China atau drama Korea, hal ini cenderung membosankan. Ada momen aku penasaran, ada momen aku nggak bisa fokus dan paham, tapi kemudian ada momen aku skip karena merasa tidak bisa masuk ke obrolan politik itu.
3. Ye Li, Female Lead yang Nggak Perlu Diselamatkan
Salah satu aspek terbaik drama ini adalah penulisan karakter Ye Li. Dia memang bukan perempuan kuat karena jago bertarung atau selalu menang dalam segala hal, dia ada kesan anggun dan dingin juga, tapi terasa banget ada banyak luka tersembunyi.
Kekuatannya justru berasal dari kecerdasan, daya tahan mental, kemampuan menyusun strategi, dan keberaniannya menghadapi rasa sakit seorang diri.
Trauma masa lalu memang nggak pernah benar-benar hilang dari kepalanya. Drama memperlihatkan bagaimana luka itu terus memengaruhi cara Ye Li memandang dunia, tetapi tanpa mengurangi kemampuannya untuk terus melangkah.
Inilah yang bikin aku merasa kalau Ye Li menjadi salah satu karakter perempuan terbaik di drama China beberapa tahun terakhir ini. Dia rapuh kok, tapi mekanisme bertahan hidup mengubah kerapuhannya menjadi sesuatu hal yang nggak pernah dibayangkan sebelumnya.
4. Mo Xiuyao, Pangeran yang Menyembunyikan Segalanya
Mo Xiuyao juga menjadi karakter yang sangat menarik. Di mata orang lain, dia hanyalah pangeran sakit yang duduk di kursi roda.
Padahal di balik penampilan tersebut tersembunyi mantan jenderal legendaris yang selama bertahun-tahun menyembunyikan kemampuan sekaligus merencanakan proyek balas dendam. Pun masih mampu mengembangkan sayapnya di dunia politik.
Yang membuatku suka Mo Xiuyao adalah Cheng Lei *eh* maksudku adalah kecerdasan dan cara dia memperlakukan Ye Li dengan berhati-hati dan tulus. Walau sempat sakit hati, dan menceraikan Ye Li. Dia bisa langsung menyadari kesalahan, mencari Ye Li, meminta maaf dan menemani Ye Li dengan segala rasa bersalahnya yang terus tumbuh bersama rasa cinta. Eyyaaak. Laki-laki sejati tuh kayak gitu, nggak takut mengakui dia salah.
Alih-alih membatasi atau meremehkan kemampuan istrinya, Mo Xiuyao juga justru memilih percaya kepadanya. Hubungan mereka dibangun melalui komunikasi, rasa hormat, dan kerja sama, sesuatu yang cukup jarang ditemukan pada drama sejarah.
5. Romansa yang Tumbuh Perlahan
Dari pembahasan soal karakter di atas, The First Jasmine jelas bukan drama yang menjadikan romansa sebagai fokus utamanya kan ya.
Hubungan Ye Li dan Mo Xiuyao berkembang sangat perlahan melalui percakapan, tatapan, kerja sama, dan kepercayaan. Aku suka pendekatan kayak gini karena terasa lebih dewasa dan realistis. Tapi, memang drama ini tuh terlalu minim momen romantisnya untuk kategori pasangan suami istri, sehingga chemistry keduanya yang cocok terasa jadi kurang dimaksimalkan sama Sutradara.
Ya, sebagai penonton berusia 30-an, aku menikmati cerita, akting, dan musiknya, tetapi merasa porsi romansa antara dua pemeran utama memang terlalu minim. Menurutku, hubungan Ye Li dan Mo Xiuyao lebih banyak dibangun lewat rasa saling percaya dibanding adegan romantis yang eksplisit.
Slow burn sih boleh, apalagi dengan fondasi saling percaya dan saling menghargai, tapi mereka ini suami istri loh, banyakin lah adegan romantisnya. Masa iya cuma gitu doang? 40 episode loh itu wkwkwkw. Bukan berarti chemistry-nya nggak berasa ya, justru karena chemistry yang begitu kuat, sayang aja kurang banyak adegan romantisnya.
6. Akting dan Produksi yang Menjadi Nilai Tambah
Secara akting mah nggak usah ditanya lagi. Bai Lu sangat berhasil menampilkan luka batin Ye Li secara halus tanpa harus selalu menangis atau menunjukkan emosi berlebihan. Dibandingkan karakter Bai Lu dari beberapa dramanya yang sudah kutonton, Ye Li ini lebih lembut, anggun dan soft spoken. Tapi cerdas dan pemberani, dengan penyakit mentalnya yang buat dia jadi bikin kasihan.
Apalagi adegan pas di gunung itu, seolah semua ketenangan Ye Li tumpah ke dalam wadah kecil yang tidak kuat menampung segala beban dan waduh aku ikut nangis banget di situ sih, seperti biasa akting Bai Lu kalau nangis mah jangan ditanya.
Sementara Cheng Lei tampil meyakinkan sebagai Mo Xiuyao yang di awal terkesan agak pemarah karena ya gitu deh, tapi sebenarnya punya sisi tenang, penuh perhitungan, tetapi perlahan memperlihatkan sisi lembutnya kepada Ye Li. Aku suka banget akting mata Cheng Lei, bisa sekuat itu menggambarkan Mo Xiuyao yang frustrasi, Mo Xiuyao yang menahan diri, Mo Xiuyao yang penasaran, Mo Xiuyao yang bucin, sampai Mo Xiuyao yang stres sendiri gegara menceraikan istrinya sampai rambut jadi putih gitu eheheh.
Dari sisi produksi, bagiku nggak ada yang bisa dicela. Mau itu sinematografi, tata artistik, kostum, nuansa kerajaan dan tata rias semua terasa elegan. Drama ini nggak mengandalkan filter berlebihan sehingga ekspresi para pemain tetap terlihat natural. Meskipun tone warnanya memang terasa seperti peralihan antara musim semi dan dam musim gugur. Bahkan setting istana si ibu suri, dibikin agak berkabut gitu yang bikin seolah-olah bukan cuma niatnya yang susah ditebak, tapi ya orangnya juga. Mantap.
7. Momen Ikonik ⚠️ Spoiler Alert⚠️
Bagian ini akan aku isi dengan beberapa momen ikonik yang masih susah aku lupakan walau sudah selesai menonton sejak Juli 2026. Diantaranya ada:
- Momen saat Ye Li menebang pohon, menakut-nakuti ayahnya dan menolak si Mo Jing Li itu keren sekaligus nggak kepikiran di aku.
- Momen saat Mo Xiuyao berhasil sembuh setelah diobati Ye Li, tapi memilih merahasiakannya dan booom langsung dikasih lihat pas di perjamuan istana.
- Momen saat Mo Xiuyao menceraikan Ye Li saat ketahuan kalau ibunya Ye Li yang menyembunyikan dekret kaisar sebelumnya, padahal ya dia maunya menolong, tapi si Mo Xiuyao tetap kecewa karena Ye Li nggak cerita soal ini. Nah, setelah itu Ye Li pergi dan Mo Xiuyao stres sampai rambutnya memutih dan memutuskan mencari Ye Li di gunung.
- Momen mereka tinggal di gunung beneran membekas di aku, menghabiskan hari-hari bersama, bahkan aku sempat khawatir soal ranjang yang berderit dan jendela itu eh malah beneran diperbaiki sama Mo Xiuyao ehehe.
- Mo Xiuyao mengikuti permainan Ye Li dengan berpura-pura bahwa semua memang masih ada di akademi Li Shan, bikin aku terenyuh banget.
- Waktu Ye Li disadarkan sama Mo Xiuyao dan orang-orang kalau dia tinggal sendirian selama ini di gunung. Qing Shuang dan lainnya udah nggak ada, momen dia menyediakan makam untuk dirinya sendiri benar-benar bikin banjir air mata.
- Panggilan A Yao dan A Li yang terngiang-ngiang di telingaku, serta adegan manis tipis yang tercipta saat A Yao mengomeli A Li yang kelayapan, plus momen A Li meletakkan kepalanya di paha A Yao yang duduk di kursi roda, uuh so sweet.
Daaaan masih banyak lagi gaees. Ini spoiler-nya keterlaluan sih kalau kataku😅
***
Kelebihan dan Kekurangan Drama China The First Jasmine
- Kelebihan:
1. Karakter Ye Li dan Mo Xiuyao ditulis sangat kuat, meskipun aku sempat merasa adegan Ye Li lebih banyak dibandingkan Mo Xiuyao, tapi ya memang harus Ye Li yang dieksplor dulu biar Mo Xiuyao bisa bereaksi. Bahkan, sangking sedikitnya kemunculan A Yao di beberapa episode, ditambah dengan beberapa keputusannya yang agak mengecewakan, aku lihat jadi banyak penonton yang memilih kalau Mo Jing Li lebih baik untuk Ye Li. Idiiih, untungnya ketahuan kalau si Jing Li emang sengaja deketin Ye Li demi mempermudah jalan politiknya, mana di ending drama dia mau bunuh Ye Li tuh. Ckckck....
2. Akting Bai Lu dan Cheng Lei TOP banget deh, apalagi pesona Cheng Lei dengan rambut putihnya itu uhuhu~~
3. Produksi, kostum, serta sinematografi terlihat elegan.
4. OST enak banget, apalagi lagu yang dinyanyikan Bai Lu dan Cheng Lei yang masih aku dengarkan sampai hari ini.
5. Secara cerita dan tema juga asik, walau bergenre sejarah bisa banget menyelipkan berbagai tema dan suasana, satu sisi bisa sedih banget, tegang, horor kayak Ye Li waktu meneror ayahnya dan lain-lain, nanti malah spoiler banget dah ini eheheh.
- Kekurangan:
1. Tempo cerita cukup lambat bagiku, ini 40 episode tapi rasanya lamaaaa banget, kayak nonton drachin lawas yang episodenya 58 ke atas ehehe.
2. Beberapa karakter pendukung kurang mendapatkan penutupan cerita yang memuaskan dan aku merasa ending dramanya kehilangan intensitas seru dibanding awal cerita padahal happy ending. Mungkin karena aku pengin lihat si Ye Ying dan Han Ming Xi beneran bahagia.
***
Segitu aja review Mo Li, ini tuh memang bukan drama yang mengejar sensasi lewat plot twist di setiap episode. Sebaliknya, drama ini akan mengajakmu menikmati perjalanan dua orang yang sama-sama terluka, belajar mempercayai orang lain, dan perlahan menemukan tempat untuk pulang di tengah intrik politik yang rumit dan penuh teka-teki kehidupan.
Gimana pendapatmu soal drama ini? Tinggalkan komentar di bawah ya. Oh ya, ada fakta menarik nih. Di sini Mo Xiuyao dan Ye Li itu pasangan beda usia, tuaan A Yao lah ceritanya. Padahal di dunia nyata Cheng Lei dan Bai Lu cuma beda setahun aja.
![]() |
| Masih ngakakin A Yao yang jadi pengangguran hobi mancing wkwkw~~ |
![]() |
| Bonus BTS A Yao dan A Li |
![]() |
| Bonus boneka santet Ye Li nih~~ |























Komentar
Posting Komentar